Timika, Siasat ID – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Mimika menyatakan keprihatinan dan kemirisan atas tindakan dua oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang mengusir mama-mama Papua yang berjualan noken di samping Gedung Eme-Neme Yaware, Kabupaten Mimika. Kejadian ini terekam dalam video yang beredar luas di media sosial dan telah dikonfirmasi kebenarannya berdasarkan data lapangan yang diperoleh.
Insiden ini terjadi pada Selasa (18/3) sekitar pukul 09.48 Waktu Papua Bagian Timur. Dalam video tersebut, terlihat dua oknum TNI mendatangi lokasi penjualan noken milik mama-mama Papua dan memaksa mereka untuk tidak lagi berjualan di tempat tersebut. Kedua oknum tersebut juga meminta para mama-mama untuk menyimpan noken-noken yang telah dipajang untuk dijual.
Salah seorang mama-mama Papua, yang hanya dikenali dengan inisial MM, menceritakan pengalamannya saat ditegur oleh salah satu oknum TNI. “Saya tidak mendengar awalnya karena saya pikir mereka berbicara dengan orang lain. Tapi ketika mereka memegang noken, saya pun kaget,” ujar MM.
MM kemudian bertanya kepada oknum TNI tersebut, “Pak, kenapa? Apa alasannya?” Kedua oknum TNI menjawab, “Mulai sekarang tidak ada lagi yang boleh berjualan noken di sini.” MM pun membela diri, “Kami tidak melakukan kesalahan apa pun. Kami hanya menjual noken, bukan barang ilegal.” Namun, salah satu oknum TNI tetap bersikeras dan berkata, “Kamu mau dengar saya atau tidak? Simpan noken-noken ini sekarang juga.”
Dengan berat hati, MM dan mama-mama Papua lainnya akhirnya menuruti perintah tersebut. “Kami menyimpan noken-noken itu dengan hati yang sedih. Suami saya sudah di-PHK oleh Freeport, dan kami hanya berjualan noken untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan keluarga,” ujar MM dengan suara lirih.
GMNI Mimika mengecam tindakan kedua oknum TNI tersebut dan meminta pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret. Mereka mendesak pemerintah untuk membangun bangunan khusus, seperti honai, sebagai tempat penjualan noken bagi mama-mama Papua. Hal ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
“Kami meminta pemerintah daerah untuk segera menyediakan lokasi yang layak bagi mama-mama Papua untuk berjualan noken. Noken bukan hanya sekadar produk kerajinan tangan, tetapi juga merupakan simbol budaya dan identitas masyarakat Papua yang harus dilindungi,” tegas perwakilan GMNI Mimika (21/3).
GMNI Mimika juga menyerukan agar aparat keamanan, termasuk TNI, lebih memahami dan menghormati hak-hak masyarakat lokal, terutama dalam hal penghidupan dan pelestarian budaya. Mereka berharap insiden ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk lebih memperhatikan kesejahteraan dan hak-hak masyarakat Papua.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak TNI maupun pemerintah daerah terkait insiden tersebut. Namun, GMNI Mimika berjanji akan terus memantau perkembangan kasus ini dan mendorong adanya penyelesaian yang adil bagi mama-mama Papua. (Tim Liputan GMNI Mimika)